SUROWITI'S HISTORY
Surowiti merupakan salah satu desa yang menjadi bagian dari kecamatan Panceng. Surowiti berada di wilayah perbukitan yang menjadi salah satu penyebaran agama islam di pulau jawa pada waktu periode kewalian. Salah satu dari sembilan wali (red : wali songo) yang pernah singgah di desa ini ialah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga, putra dari Tumenggung Wilatikta Bupati Tuban Menyebarkan agama Islam serta menempah ilmu kewaliannya di desa Surowiti.
Pada mulanya Desa Surowiti bernama Desa Selorongin yang berada di bawah perbukitan. Desa tersebut dihuni beberapa keluarga yang hidup tentram, dipimpin oleh Suro Astono. Suatu ketika ada gerombolan perampok yang dipimpin oleh Surogento membuat kekacauan di desa. Bertepatan dengan adanya seorang pengembara dari arah barat (Tuban), Raden Seco adalah nama julukan yang diberikan kepada Sunan Kalijaga dari masyarakat desa. Pada umumnya masyarakat luar menyebutnya Raden Lokajaya.
Suro Astono mengeluh dan meminta bantuan kepada Raden Seco, yang terkenal dengan kepiawaian penguasaan wilayah. Raden Seco bersedia membantu Suro Astono untuk menaklukkan gerombolan perampok itu dengan syarat diperbolehkan menetap sementara di desa itu. Raden Seco berhasil menaklukkan gerombolan Surogento, bahkan mereka dibina dan menjadi sahabat Raden Seco beserta penduduk Desa Selorongin.
Sejak saat itu Raden Seco menyarankan penduduk desa agar menempati wilayah di atas bukit. Mbah Suro Astono adalah orang pertama yang naik ke bukit karena itu desa ini diberi nama Surowiti ( Suro Astono kang miwiti ).
Desa Surowiti terbagi menjadi tiga dusun yakni Dusun Panceng, Gampeng dan Surowiti. Dusun Panceng berada di deretan gapura masuk desa Surowiti. Wilayah masuk wisata bukit Surowiti yang berada di bawah perbukitan adalah Dusun Gampeng. Sedangkan Dusun Surowiti berada di atas perbukitan dan menjadi tempat yang pernah disinggahi Sunan Kalijaga untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh gurunya, Sunan Bonang, menyimpan jejak karomah seorang wali. Sunan Kalijaga diperintahkan untuk menjaga tongkat disebrang kali yang berada di lereng bukit Surowiti selama waktu yang tidak ditentukan hingga Sunan Bonang memberhentikannya. Sunan Kalijaga berhasil melakukan perintah gurunya dengan itu kewalian seorang yang dikenal kepremanannya terbentuk.
Sebagai salah satu penggerak perekonomian, pariwisata dapat membantu pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sektor pariwisata dapat mencapai kelompok ekonomi bawah bahkan lebih dari kelompok ekonomi lainnya. Masyarakat di sekitar lokasi wisata dapat membangun berbagai bisnis, seperti tempat penginapan, layanan transportasi, toko dan lain-lain. Kegiatan ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi tingkat kemiskinan.
Di Gresik tepatnya di kecamatan Panceng yang mencakup beberapa desa, salah satunya desa Surowiti. Desa ini memiliki potensi pariwisata yang berbasis dengan sejarah. Wisata di desa ini disebut dengan nama "Wisata Bukit Surowiti". Wisata bukit Surowiti berjarak sekitar 40km dari kota Gresik. Ada banyak hal unik yang bisa ditemukan di desa Surowiti, diantaranya adalah pemukiman diatas bukit. Masyarakat disini hidup sederhana dan kental dengan nuansa kekeluargaan dan religinya. Ya, disinilah letak wisata religi makam sunan Kalijaga dan sahabatnya serta murid-muridnya . Disini juga terdapat wisata alam bukit Surowiti yang memiliki pemandangan yang sangat indah.
Berikut adalah beberapa keunikan dan cerita menarik di Surowiti:
Tiang di Masjid Raden Syahid
Terdapat masjid tiban di sekitar rumah penduduk dusun Surowiti yang dipercayai bahwa masjid ini adalah karomah peninggalan Sunan Kalijaga. Terbukti ketika perenovasian masjid tersebut empat tiang di area laki-laki tidak ditemukan ujungnya. Pertanda bahwa masjid tersebut dibangun oleh seorang yang memiliki keistimewaan. Masjid itu diberi nama Raden Syahid.
Musholla dan Batu Tempat Berpijak Sunan Kalijaga
Masyarakat disini percaya bahwa musholla kecil di dekat gua merupakan tempat yang pernah digunakan oleh Mbah sunan Kalijaga untuk beribadah. Terbukti dengan cerita dari salah satu pengunjung yang mengaku bahwa dia tahu di pengimaman musholla itu terdapat bekastelapak tangan Sunan Kalijaga, namun tidak semua orang bisa melihatnya. Selain itu di dekat musholla itu terdapat bekas pijakan kaki sunan Kalijaga saat hendak bersuci tapi tidak menemukan air. Akhirnya beliau menghentakkan kakinya di bumi dan muncullah sumber air disitu. Menurut masyarakat sumber air tersebut terus mengalir sampai pada akhirnya masyarakat berniat untuk merenovasi dan memperindah sumur pijakan batu tersebut namun malah membuat sumber airnya tidak keluar lagi.
Acara adat Sedekah bumi
Mungkin Kita tidak asing lagi dengan acara sedekah bumi yang dilakukan disetiap desa yang bertujuan sebagai bukti rasa syukur warga atas hasil bumi dan kebaikan lainnya. Namun, sedekah bumi di desa Surowiti agak berbeda, karena masyarakat mempercayai acara ini sebagai upacara adat yang wajib diikuti oleh seluruh warga Surowiti meskipun mereka sedang di luar kota. Jadi setiap acara sedekah bumi, semua warga Surowiti akan pulang kampung untuk mengikuti acara ini. Menurut masyarakat, warga yang tidak hadir di acara tersebut akan mendapat kesulitan.
Haul Sunan Kalijaga di Surowiti
Haul sunan Kalijaga di surowiti diadakan setiap hari kamis terakhir bulan dzulhijjah. Biasanya para peziarah akan ramai mengunjungi desa ini untuk mencari ilmu dan berkah di acara ini.
Di Surowiti ini terdapat beberapa destinasi wisata religi dan wisata alam yang worth it banget untuk dikunjungi. Selain pemandangannya yang masih sangat asri dan sangat memanjakan mata, sejarah-sejarahnya pun sangat kental dan menarik.
Berikut adalah destinasi wisata religi yang ada di Surowiti:
Petilasan Sunan Kalijaga
Di area bukit Surowiti terdapat petilasan Sunan Kalijaga. Warga setempat percaya secara turun temurun bahwa itu adalah makam sunan Kalijaga yang asli. Namun mereka menanamkan hal ini kepada warga setempat dan generasi penerus Mereka. Mereka tidak ingin berkoa-koar dan memaksa semua orang percaya bahwa makam sunan Kalijaga yang asli ada di desa Surowiti. Hal ini dikarenakan dawuh dari sesepuh mereka karena dikhawatirkan bisa menimbulkan pro dan kontra bagi khalayak umum atau bahkan bisa menimbulkan perselisihan. Menariknya lagi, Pintu petilasan Sunan Kalijaga hanya dibuka setiap hari Senin dan Kamis, karena Mbah sunan dulu hanya keluar dari pertapaanya pada hari Senin dan Kamis untuk mengajar para santri beliau. Jadi, setiap hari Senin dan Kamis tidak jarang ada yang berkunjung ke petilasan Sunan Kalijaga untuk ziarah.
Makam Empu Supo
Tidak hanya Sunan Kalijaga yang pernah singgah di Surowiti. Empu Supo, yang dikenal dengan kepandaian dalam kepemerintahan sekaligus pembuat keris handal dari kerajaan Majapahit mengembara dan bertemu Sunan Kalijaga. Mbah Empu Supo tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Sunan Kalijaga sehingga hubungan keduanya semakin dekat. Kedekatan hubungan mereka, Sunan Kalijaga mendapatkan banyak cerita tentang kerajaan Majapahit. Dengan itu Mbah Empu Supo diutus untuk menyiapkan strategi pemerintahan kerajaan Demak. Untuk menjaga kedekatannya Mbah Empu Supo menikah dengan adik Sunan Kalijaga. Banyak rakyat Majapahit yang berpikir bahwa Empu supo telah meninggal. Untuk memberitahu bahwa Empu Supo masih hidup dan baik-baik saja, beliau tetap membuat keris-keris yang nantinya akan disebarkan. Hingga akhir hayatnya beliau dimakamkan di Surowiti.
Makam Mbah Sloko
Mbah Sloko adalah warga asli desa Surowiti yang dipercaya untuk mengatur kesosialan, kebudayaan dan keagamaan setelah Mbah Suro Astono. Beliau dimakamkan satu komplek dengan petilasan Sunan Kalijaga.
Makam Mbah Singowongso
Menurut wakil juru kunci petilasan sunan Kalijaga Mbah Singowongso adalah pangeran dari Sedayu. Beliau dipercaya untuk mengatur kepemerintahan di Surowiti. Nama Singowongso diambil dari hewan yang menemani beliau, macan putih. Goa Macan yang terletak di bukit surowiti yang tak jauh dari makam Mbah Empu Supo dipercayai oleh warga setempat sebagai tempat macan putih.
Makam Raden Bagus Mataram
Raden Bagus Mataram adalah seorang saudagar keturunan bangsawan kerajaan Mataram Islam dan sahabat Sunan Kalijaga yang mendukung pendirian kerajaan islam di Nusantara. Raden Bagus Mataram menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk dakwah Islam khususnya pendirian kerajaan Demak Bintoro. Raden Bagus Mataram dimakamkan di Surowiti. Lokasinya terpisah jauh dengan petilasan Sunan Kalijaga, tepatnya di samping jalan menuju pemukiman warga di dusun Surowiti.
Berikut adalah beberapa destinasi wisata alam di bukit Surowiti dan keindahanny:
Goa Langsih
Goa Langsih ini tergolong unik karena memiliki pintu atau lubang masuk yang sangat sempit. Ukurannya pas untuk tubuh satu orang. Goa Langsih terdiri atas dua ruangan. Ruangan atas goa konon dulunya digunakan Sunan Kalijaga untuk bermusyawarah dengan sunan-sunan lainnya dalam memecahkan persoalaan keagamaan. Dalam ruangan bagian bawah goa terdapat batuan yang berbentuk cekungan dengan air yang menetes secara terus-menerus hingga saat ini. Goa Langsih dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijaga bertapa. Beliau hanya keluar dari goa untuk mengajar pada hari Senin dan Kamis.
Goa Macan
Goa Macan ini terletak di dekat makam Empu Supo. Konon katanya, goa Macan adalah tempat untuk hewan yang menemani Mbah Singowongso yaitu macan putih.
Goa Lumbung
Goa Lumbung ini dulu adalah tempat yang digunakan Sunan Kalijaga untuk menyimpan harta benda dan barang berharga lainnya. Dan dari tempat inilah mitos pesugihan di Surowiti muncul.
Pring Silir
Tempat ini dipercayai sebagai tempat dimana Sunan Kalijaga menjaga tongkat Sunan Bonang, sampai suatu ketika tongkat tersebut tumbuh menjadi serumpun bambu yang dinamakan "Pring Silir"
Wisata Panjat Tebing
Selain pemandangan di area bukit Surowiti yang sangat menakjubkan, disediakan juga area panjat tebing yang sangat menarik untuk dicoba.
Wisata Bukit Surowiti
Dan yang tidak boleh ditinggalkan adalah wisata alam desa Surowiti. Karena berada di ketinggian beberapa meter dari atas laut, pemandangan dari atas bukit sangat indah. Pengunjung akan disungguhkan Pemandangan laut yang indah serta hamparan sawah yang masih sangat alami.
Di area timur, disediakan spot foto yang menunjukkan keindahan alam Gresik dari atas. Tempat ini juga cocok dikunjungi saat ingin melihat sunrise.
Selain di sebelah Timur, di sebelah Barat juga tidak kalah cantik pemandangannya. Di sebelah Barat ini, ada segerombolan batu yang dinamakan "Batu Kenteng". Dinamakan batu Kenteng karena batu ini jika dipukul dengan batu, akan berbunyi "teng..." Dan juga batu tersebut bentuknya menyerupai batu karang. Konon katanya, dulu di daerah tersebut adalah lautan.
Penduduk Biasa
14 September 2016 06:09:16
Selamat atas keberhasilan Senggigi merayakan Hari Kemerdeakaan 2016!...